
CILEUNGSI – Mencari ide penelitian yang mampu memikat juri tingkat nasional bukanlah hal yang mudah. Namun, di tangan Nuhiyah, S.Pd., M.Pd., proses rumit tersebut diubah menjadi langkah-langkah strategis yang terbukti menghasilkan medali. Hal ini terungkap dalam Workshop Karya Tulis Ilmiah yang mengupas tuntas panduan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2027.
Kak Enuh, yang tercatat sukses mendampingi siswanya meraih medali emas OPSI empat tahun berturut-turut (2023-2026), membagikan rahasia dapurnya kepada para pelajar. Berbeda dengan ajang kompetisi lain yang berjenjang dari tingkat daerah, OPSI adalah ajang kompetisi yang seleksinya langsung dilakukan di tingkat nasional. Peserta dituntut untuk membangun ide, melakukan riset, dan melaporkannya secara ilmiah.
Untuk menembus langsung ke tingkat nasional, Kak Enuh memberikan bocoran “Do’s and Don’ts” dalam memilih judul penelitian. Berikut adalah 4 hal yang DILARANG KERAS (Don’ts) saat menentukan judul menurut Kak Enuh:
- Jangan Menumpuk Teknologi: Hindari menggabungkan kecerdasan artifisial, Internet of Things, nano, dan blockchain di satu judul tanpa fungsi yang benar-benar diperlukan.
- Jangan Membuat Klaim Sebelum Diuji: Jangan gunakan kata “efektif, unggul, akurat, atau revolusioner” pada judul jika belum dibuktikan lewat hasil penelitian.
- Jangan Memilih Masalah Terlalu Luas: Judul tentang lingkungan atau pendidikan harus dipersempit pada objek dan konteks tertentu saja.
- Jangan Ikut Tren Tanpa Kesiapan: Pastikan alat, data, waktu, dan keahlian memang tersedia sebelum memaksakan sebuah ide riset.
Sebagai langkah awal yang benar, Kak Enuh menyarankan agar siswa mulai mencari masalah yang nyata, membaca karya finalis sebelumnya, dan menentukan satu pembaruan yang spesifik dan terukur.”Judul kuat dimulai dari hubungan masalah, inovasi, dan pembuktian,” tegas panduan Kak Enuh untuk bidang Matematika, Sains, dan Teknologi (MST). Beliau juga memberikan rambu-rambu penting yang harus dihindari oleh para calon peneliti muda. Kak Enuh melarang keras peserta untuk sekadar mengikuti tren teknologi tanpa kesiapan, atau menumpuk istilah teknologi (seperti AI, IoT, atau Nano) di dalam judul tanpa fungsi yang benar-benar diperlukan.
Bagi siswa yang berminat di bidang Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH), Kak Enuh menyarankan agar penelitian berakar pada isu lokal dengan eksekusi yang mendalam. Sedangkan untuk penggemar teknologi di bidang Fisika Terapan dan Rekayasa (FTR), inovasi harus berangkat dari kegagalan teknis yang nyata. Melalui workshop yang sangat komprehensif ini, para peserta diajak untuk tidak memikirkan teknologinya terlebih dahulu, melainkan berfokus pada persoalan apa yang paling mendesak untuk diselesaikan. Dengan panduan dari Kak Enuh, gerbang menuju medali OPSI 2027 kini terbuka semakin lebar bagi para siswa.
Antusiasme yang terbangun sepanjang workshop ini ditutup dengan momen hangat penyerahan cenderamata dari SMA Islam Al Azhar BSD@Cileungsi kepada Kak Enuh. Apresiasi ini menjadi simbol terima kasih atas dedikasi beliau dalam memantik semangat para calon peneliti muda. Acara pun diparipurnakan dengan senyum ceria para peserta dalam sesi foto bersama, mengabadikan semangat dan langkah awal mereka untuk menyongsong OPSI 2027.